Selasa, 24 Maret 2015


TENTANG KESUNGGUHAN DALAM BELAJAR, KETEKUNAN DAN CITA-CITA
Para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar, harus tekun seperti yang diisyaratkan dalam al-Qur’an, “Dan orang-orang yang berjihad atau berjuang sungguh-sungguh untuk mencari (keridhoanku), maka benar-benar Aku akan tunjukkan mereka kepada jalan-jalan menuju keridhoan-Ku.” Dikatakan barangsiapa bersungguh-sungguh mencari sesuatu tentu akan mendapatkannya. Dan siapa saja yang mau mengetuk pintu, dan maju terus tentu bisa masuk.
Dengan kadar sengsaramu dalam berusaha kamu akan mendapat apa yang kamu dambakan. Dikatakan bahwa belajar dan memperdalam ilmu fiqih itu dibutuhkan adanya kesungguhan dari tiga orang, kesungguhan murid, guru, dan ayah bila masih hidup.
Ustadz Sadiduddin mengalunkan syair gubahan Imam Syafi’i kepadaku, “Kesungguhan itu dapat mendekatkan sesuatu yang jauh, dan bisa membuka pintu yang terkunci. Sungguh sangat banyak orang yang bercita-cita luhur bersedih, karena diuji dengan kemiskian. Barangkali sudah menjadi suratan takdir dan keputusan Allah, bahwa banyak orang cerdas tapi miskin dan banyak orang bodoh yang kaya raya. Dan kedua hal tersebut tidak bisa dikumpulkan.”
Penyair lain berkata, “Kamu ingin menjadi orang ahli fiqih, tapi tak mau sengsara, itu artinya kamu gila. Mencari harta pun tidak akan berhasil tanpa kerja keras, dan harus tahan menghadapi penderitaan. Begitu juga mencari ilmu tidak akan berhasil tanpa kerja keras(sengsara).”
Abu Thoyyib berkata”Sungguh naif orang yang mampu berusaha tapi tidak mau berusaha secara optimal.”
Santri tidak boleh banyak tidur pada malam hari. Seperti dikatakan dalam syair, “Kemuliaa itu akan tercapai menurut kadar kesengsaraan. Barangsiapa ingi mencari kemuliaan, maka harus meninggalkan tidur malam. Kamu ingin kedudukan tinggi tapi kamu enak-enak tidur pada malam hari. Padahal orang yang mencari permata pun harus menyelam kedalam lautan. Derajat yang luhur itu seiring dengan cita-cita yang luhur. Orang yang memperoleh kedudukan tinggi karena ia berjaga malam. Aku tidak tidur diwaktu malam, ya Tuhanku, demi mencari keridhoanMu Ya Tuhan yang menjadikan seseorang menjadi tuan. Siapa ingin kedudukan tinggi,tapi tidak mau kerja keras, itu artinya dia menyia-nyiakan usia.  Mengharap sesuatu yang mustahil
Maka tolonglah kami, Ya Allah, dalam mencari ilmu dan tempatkanlah kami kepuncak kedudukan yang luhur.” Para santri harus menggunakan waktu malam untuk belajar dan ibadah, supaya memperoleh kedudukan tinggi di sisi-Nya.
Penyusun kitab ta’lim muta’allim berkata: Bagiku, cukup menarik makna syair yang berbunyi, “Barangsiapa ingin meraih apa yang dicita-citakan, maka ia harus menjadikan waktu malamnya sebagai kendaraan untuk mengejar cita-citanya. Jangan banyak makan agar kamu tidak ngantuk. Hal itu jika Anda benar-benar ingin menggapai kesempurnaan.”
Ada yang berkata bahwa mengurangi tidur malam untuk beribadah itu menggembirakan hati di siang hari.
Santri harus mengulang-ngulang pelajarannya pada awal malam dan akhir malam. Yaitu antara isya’ dan waktu sahur, karena saat-saat tersebut diberkati.
Seorang penyair berkata,”Wahai para penuntut ilmu, hiasilah dirimu dengan sifat wara’ (menjauhi barang syubhat), jauhilah tidur, kurangilah makan, dan tekunlah belajar.”
Para pelajar harus memanfaatkan masa mudanya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Perhatikan bait sya’ir ini, “Dengan kadar kerja  kerasmulah kamu akan diberi apa yang menjadi cita-citamu, orang yang sukses, harus sedikit mengurangi tidur malam, gunakan masa malammu sebaik-baiknya, karena masa muda adalah kesempatan yang tidak akan pernah terulang.
Seorang santri tidak boleh terlalu memaksa diri hingga melebihi kekuatannya. Karena akan melemahkan tubuhnya, sehingga tidak mampu bekerja karena terlalu lelah. Mencari ilmu itu harus sabar. Pelan-pelan tapi continoe, sabar inilah pokok yang penting dari segala sesuatu.
Santri harus bercita-cita tinggi, sebab orang itu tinggi derajatnya karena memang ia bercita-cita tingi. Cita-cita itu ibarat sayap burung yang dipergunakan untuk terbang tinggi-tinggi. Abi Thayib berkata: “Kedudukan seseorang itu tergantung menurut cita-citanya. Dan kemuliaan akan tergapai oleh seseorang kalau cita-citanya tinggi dan mulia. Pangkat yang tinggi akan terasa berat meraihnya bagi orang yang berjiwa kerdil. Tapi bagi orang yang berjiwa besar, setinggi apapun sebuah kedudukan, dianggap kecil atau ringan.
Modal paling utama ialah kesungguhan. Segala sesuatu bisa dicapai asal mau bersungguh-sungguh dan bercita-cita luhur.[1]


[1] Syeikh Az-Zarnuji, Terjemahan Ta’lim Muta’allim, Surabaya: Mutiara Ilmu, 2009. Hal 39

1 komentar: