Anjuran Bernikah
886) Alqamah berkata:
كُنتُ مَعَ عبداللة ابن مسعود فلَقيهُ عثمان بمنى فقال : ياأبا عبدالرحمن! انّ لى اليك حاجة, فخليا. فقال عثمان : هل لك ياأبا عبد الرحن فى ان تزوجك بكراتذكّرك ما كنت تعهد؟فلما رأى عبداللة ان ليس له حاجة الى هذا,اشارالي,فقال: ياعلقة. فانتهيت اليه وهو يقول: امالئن قلت ذالك, لقد قال لناالنبي ص.م. "يا معشرالشباب! من استطاع منكم الباءة فليتزوج, ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاَءٌ"
Ketika Alqamah datang menghampiri Ibnu Mas’ud, yang memanggilya, Alqamah mendengar Ibnu Mas’ud mengatakan kepada Utsman. “Jika anda menganjurkan supaya saya bernikah, maka Rasul SAW pun dulu telah menganjurkannya. Nabi SAW bersabda. “Hai jamaah pemuda! Barangsiapa diantara engkau mampu megeluarkan nikah,maka hendaklah ia bernikah!”
Syabab ialah pemuda yang belum berumur tiga puluh tahun. Menurut Ibnu Syas, belum berumur genap empat puluh tahun.
Nabi memerintahkan kepada pemuda senantiasa untuk berkawin, apabila ia sudah merasa mampu untuk menghidupi istri kelak dan sudah berpenghasilan. Namun, apabila dirasa belum mampu untuk yang demikian dan belum berpenghasilan cukup, maka berpuasalah! Sebab dengan berpuasa baginya dapan mensterilkan nafsu dirinya.
Tentang soal ini,disepakati para ulama. Hanya menurut jumhur, perintah ini adalah perintah nadab (sunah).
Daud dan ulama-ulama yang sependapat dengan beliau menetapkan bahwa perintah disini ialah perintah wajib. Mereka berkata:”Seseorang wajib nikah dikhawatirkan terjerumus ke dalam kancah kemaksiatan.” Tetapi Ahluz zhahir hanya mewajibkan nikah, tidak mewajibkan persetubuhan. Al-qur’an dan hadis menyuruh kita menikah.
Dalam soal nikah, ulama Syafi’iyah membagi anggota masyarakat kedalam empat golongan:
a. Golongan yang berhasrat untuk berumah tangga serta mempunyai belanja untuk itu. Golongan ini disukai untuk bernikah. Karena agama kita, bukanlah agama Rahbaniyah(Selibat/hidup membujang).
b. Golongan yang tidak mempunyai hasrat untuk nikah, dan tidak punya belanja, golongan ini dimakruhka nikah.
c. Golongan yang berhasrat untuk nikah tetapi tidak punya belanja . golongan ini yang diperintah untuk berpuasa untuk mengendalikan syahwatnya.
d. Golongan yang mempunyai belanja tetapi tidak berhasrat untuk nikah, golongan ini menurut As-Syafi’y, lebih baik tidak bernikah. Namun Abu hanifah dan segolongan Malikiah, untuk golongan ini dianjurkan bernikah.
Al Qhurtuby berkata:” Orang yang mempunyai kesanggupan untuk nikah dan takut terjerumus dalam kancah maksiat jika tidak nikah dia wajib nikah.”
Dalam pada itu, tidak halal beristri bagi orang yang merasa tidak sanggup memberi nafkah atau mas kawin, atau sesuatu hak istri sebelum ia menerangkan pula tentang keadaan kesehatan badannya, andaikata dia mempunyai penyakit yang menghalangi persetubuhan. Menghindari nikah dan mencapai kelezatan dunia dengan jalan lain tidak dibenarkan dalam islam.[1]
[1] Teungku Muhammad Hasbi Ash shiddieqy. Mutiara Hadis 5. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 2003.h.3-5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar