Makna nun (kami) pada ayat
إياك نعبد وإياك نستعين
Pertanyaan
:
Bagaimana pendapatnya, Apabila nun tersebut menunjukkan
jama’(kami semua), padahal kenyataannya pembaca atau pemohonnya hanya satu. Apabila
penggunaan kata kami itu untuk tujuan penghormatan, maka tidak bersesuaian
dengan kedudukannya? Misalnya, ketika sholat menghadap Allah dengan sendirian
(munfarid) tidak berjamaah.
Jawaban:
Kutipan dari buku: Dr. Anwar Mujahidin, M.A, Pemurnian Tafsir
Surat Al-Fathihah. Analisis struktural terhadap pemikiran Ibu Katsir dalam
Karyanya Tafsir Al-Qur’a Al-Adzim. Yoyakarta: Suka Press, 2013. h.73
Tanpa menyebutkan sumbernya, penafsir memaparkan jawabannya, bahwa
yang dimaksudkan adalah pemberitahuan tentang jenis ibadah, termasuk shalat,
baik ketika ia menjadi makmum atau imam dalam shalat berjamaah. Pemberitahuan
tersebut ditujukka kepada dirinya, kawan-kawannya yang seiman untuk beribadah.
Pendapat lain ialah yang menyatakan bahwa maksud nun pada na’bud
dan nasta’in untuk tujuan penghormatan, karena kalau seseorang
melaksanakan shalat, berarti ia melaksanakan sesuatu yang mulia, karena itu ia mulia dan agung.
Pendapat lain menyatakan bahwa iyyaa ka na’bud lebih lembut dalam
merendahkan diri (bertawadhu’) dari pada iyyaa ka ‘abdina, begitu juga
yang kedua. Penghormatan tersebut adalah kepada dirinya sendiri karena telah
menyiapkan dirinya sendiri untuk beribadah kepada Allah ta’ala, di mana seorang
tidak dapat beribadah sebaik-baik ibadah dan tidak dapat memuji sebagaimana
Allah memuji dirinya sendiri. Untuk itu, ibadah memiliki kedudukan yang agung.
Sebagai bukti ialah dinamainya Rasulullah SAW dengan hamba-Nya (‘Abdihi) dalam
kedudukan yang sangat mulia.
------Allahu’alam bi showab-------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar