Senin, 23 Maret 2015


Makna nun (kami) pada ayat
  إياك نعبد وإياك نستعين
Pertanyaan :
Bagaimana pendapatnya, Apabila nun tersebut menunjukkan jama’(kami semua), padahal kenyataannya pembaca atau pemohonnya hanya satu. Apabila penggunaan kata kami itu untuk tujuan penghormatan, maka tidak bersesuaian dengan kedudukannya? Misalnya, ketika sholat menghadap Allah dengan sendirian (munfarid) tidak berjamaah.

Jawaban:
Kutipan dari buku: Dr. Anwar Mujahidin, M.A, Pemurnian Tafsir Surat Al-Fathihah. Analisis struktural terhadap pemikiran Ibu Katsir dalam Karyanya Tafsir Al-Qur’a Al-Adzim. Yoyakarta: Suka Press, 2013. h.73

Tanpa menyebutkan sumbernya, penafsir memaparkan jawabannya, bahwa yang dimaksudkan adalah pemberitahuan tentang jenis ibadah, termasuk shalat, baik ketika ia menjadi makmum atau imam dalam shalat berjamaah. Pemberitahuan tersebut ditujukka kepada dirinya, kawan-kawannya yang seiman untuk beribadah.
Pendapat lain ialah yang menyatakan bahwa maksud nun pada na’bud dan nasta’in untuk tujuan penghormatan, karena kalau seseorang melaksanakan shalat, berarti ia melaksanakan sesuatu  yang mulia, karena itu ia mulia dan agung. Pendapat lain menyatakan bahwa iyyaa ka na’bud lebih lembut dalam merendahkan diri (bertawadhu’) dari pada iyyaa ka ‘abdina, begitu juga yang kedua. Penghormatan tersebut adalah kepada dirinya sendiri karena telah menyiapkan dirinya sendiri untuk beribadah kepada Allah ta’ala, di mana seorang tidak dapat beribadah sebaik-baik ibadah dan tidak dapat memuji sebagaimana Allah memuji dirinya sendiri. Untuk itu, ibadah memiliki kedudukan yang agung. Sebagai bukti ialah dinamainya Rasulullah SAW dengan hamba-Nya (‘Abdihi) dalam kedudukan yang sangat mulia.
------Allahu’alam bi showab-------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar